Persona

Seringkali, ketika aku riset tentang sesuatu karena keingintahuan, aku selalu memposisikan diri sebagai orang terakhir yang tahu tentang hal yang baru kuketahui ketika riset tersebut. Jadi, semua orang udah tahu, aku aja yang telat tahunya.

Misalnya kemarin, ada temen ngobrol-ngobrol tentang bikin channel youtube yang kontennya untuk menghibur seperti misalnya sketsa komedi karena dia kebetulan baru selesai course online video editing, jadi pengin langsung praktek.

Trus, berdasarkan yang baru-baru ini aku ketahui dari sisi digital marketing atau mungkin marketing secara umum (mungkin ya, hehe), aku tanya lah target audience-nya siapa? kalangan remaja atau yang 30an ke atas kah? soalnya jokes taste-nya bisa beda, trus nanti bahasa yang mau dipake di videonya juga kan enaknya sesuai bahasa sehari-hari si target audience.

Trus temenku ini jawab “ya saya mah pengennya seluas-luasnya aja biar bisa diterima banyak”

Dalam hati ku berbicara, “eh, ada juga yang masih mikir kayak aku kemarenan ternyata ya? target marketnya ga usah spesifik, seluas-luasnya aja”

Lalu aku jawab “Setahuku, kalo menargetkan semua orang, itu sama artinya dengan tidak menargetkan siapapun”.

Atau, kalo ingin meraih semua orang, justru akhirnya ga akan meraih siapapun.

Atau, kalo semua hal dianggap penting, itu sama artinya semuanya tidak penting.

Jadi, lebih baik kita bikin dulu semacam target audience persona, karakter satu orang sespesifik mungkin kayak namanya siapa, umurnya kira-kira berapa tahun, pekerjaannya apa, sukanya apa, cita-citanya apa, dan masalah yg lagi dihadapinya itu apa aja.

Setelah kita bikin persona-nya, ntar setiap kamu bikin video, pikirannya tertuju sama satu orang itu.

“oh, si anu mah kan sukanya kayak jokes garing ala bapak-bapak gitu, berarti biar dapet, kita bikin sketsa humor yg jokes bapak-bapak aja, trus bahasanya pake bahasa gaul remaja 90an”

Jadi, kalo kita udah punya persona spesifik, akan lebih gampang membatasi proses kreatif bikin videonya.

Lalu temenku in memahaminya dengan begitu baik. Akupun senang bisa membantu 😀

Sekian dan terima gaji! <— jokes bapak-bapak!

Dying

Sejujurnya, dulu aku mulai menekuni fotografi karena kufikir ini adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Ga seperti melukis yang butuh teknik dan proses untuk menggambar. Ftografi hanya butuh tools (kamera), lihat sesuatu yang bagus untuk difoto dan pencet tombol shutter, jadi deh satu foto.

Tapi makin aku belajar teknik dasar karena memang penasaran banget pengin menghasilkan foto-foto tertentu yang ada di imajinasi, makin menyadari bahwa fotografi ga semudah yang kufikir di awal.

Belum dengan dunia menulis untuk storytelling biar terasa lebih relatable dengan siapapun yang melihat dan membaca tulisanku, belum lagi filosofinya dan semuanya tentang fotografi yang seharusnya diketahui kalo ngaku sebagai photo enthusiast.

Jujur aja, posisiku sekarang ada di tengah perjalanan. Bukan lagi pemula yang belum tahu apa itu segitiga exposure, tapi bukan juga expert yang tahu banyak tentang genre, teknik atau banyak hal terkait dunia fotografi.

Aku inginnya terus belajar tentang fotografi ini sampai benar-benar paham dan puas, tapi entah kenapa rasanya mentok disini, rasanya kok ga butuh untuk memperdalam lagi (atau mungkin belum butuh).

Kalo ada kutipan yang berbunyi “once you stop learning, you start dying”, apakah aku sekarang lagi sekarat di fotografi ini? atau mungkin aku butuh ‘udara segar’ dan mencari motivasi?

Hmmm… abaikan aja ya, ini cuma angin lalu. Throwing something useless to the world of internet.

aha moment

So, istilah itu penting. Merupakan alat untuk mengkomunikasikan apa yang aku maksudkan di kepala dan kamu bisa memahaminya hanya dengan satu atau dua kata istilah tersebut.

Hari ini aku menemukannya.

Berawal dari pencarianku mencari niche spesifik untuk blog baru yang akan aku buat dalam rangka praktek ilmu dasar digital marketing, aku malah ga sengaja menemukan istilah ini.

Mulailah aku mencari tahu di google tentang genre apa aja yang ada di fotografi, siapa tahu bisa dapet ide dari situ. Hasil pencarian teratas menunjukan jawaban “7 Types of Photography Styles to Master” diantaranya adalah portrait, fashion, sports, architecture, photojournalism, still life dan editorial photography.

Nah, aku langsung tertarik dengan yang terakhir itu, editorial… karena dari bunyinya kok kayak ada hubungannya sama majalah, hehe.. fyi, aku juga paling suka dengan majalah karena desain layout fotografi dan tipografi yang selalu indah dilihat mataku.

Editorial photography intinya adalah foto yang dibuat untuk mengilustrasikan isi artikel. Kalo commercial photography bertujuan untuk menjual produk atau profil perusahaan, kalo editorial ini ‘menjual’ cerita dalam tulisan yang akan disandingkannya. Editorial photography memang seringnya dipakai di majalah, juga bisa sebagai stock photo.

Storytelling dengan foto, membuat foto berdasarkan tulisan yang sudah dibuat, mengilustrasikan inti tulisan. Hal ini terasa pas banget dengan filosofi yang ingin kutekankan dalam fotografiku kedepannya.

Sebelumnya, aku selalu memotret sesenang hati aja, apa yang terlihat bagus saat itu juga aku potret, tanpa alasan jelas, yang ujung-ujungnya kalo sebagai blogger, akan bingung pas nulis caption atau cerita. Nah, hal itu yang ingin aku ubah

So, editorial photography! sounds right 😀

Anyway, editorial photography ini ga akan jadi niche di blog baru nanti karena kayaknya lebih cocok untuk personal branding. Paradigma baru tentang caraku memotret. yang tadinya hunting tanpa planning, sekarang harus tahu dulu apa yang ingin kutulis dan dibantu dengan foto-foto yang akan kubuat.

Kalo untuk blog baru, aku ingin lebih seperti serving my target audience. Memenuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka dengan konten-konten yang akan kubuat. Jujur aja aku kepikiran kalo target audience-ku adalah para photo enthusiast atau hobbyist yang mulai ingin making money from photography, jadi profesional gitu. Tapi masih rough idea sih, hehe.

Oke deh, itu aja laporan untuk hari ini. Oia, selamat datang kembali creameno.com di jagad perbloggingan setelah beberapa bulan ini hibernasi. Obviously, banyak banget yang kangen. Aku mah engga kangen kok. :p

Jadi penasaran

Kalo suatu saat aku memutuskan untuk membuat konten-konten yang bukan tentang diriku lagi, tapi sesuatu yang memang bermanfaat untuk kamu (terlepas apakah kamu adalah target audiensku atau bukan).

Kira-kira ekspektasi kontennya akan tentang apa?

Balik lagi?

So…

Setelah beberapa tahun ini ga pernah melirik lagi, akhirnya hari ini aku membukanya lagi. Ini semua karena jiwa gratisan dan keinginan belajar sambil praktek, jadi semua opsi yang gratis aku buka lagi termasuk si ‘yang lama ga dikunjungi lagi’ ini.

Seperti yang pernah aku bilang sebelumnya kalo aku lagi belajar Basic Digital Marketing di Google Garage, ada tentang SEO, SEM, gimana pentingnya web analytics, juga content marketing, dan sejenisnya. Nah, semua itu ga akan pernah benar-benar aku pahami kecuali aku praktek langsung.

Tentu saja pilihan paling asik adalah beli hosting dan domain, tapi karena belum ada budget dan kalo misalnya belajar sama yang gratisan bisa, kenapa engga?

Tadinya, aku mau pake blog wordpress yang photoblog untuk disambungkan ke google analytics dan semua tools google lainnya, tapi ternyata engga bisa. Jadi, tanpa muter kemana-mana, aku langsung kepikiran blogger.com karena itu produk google juga, jadi kemungkinan itu ada.

Awalnya ga berharap kalo blogger.com akan ada update karena terakhir aku buka blogger, interface-nya masih gitu-gitu aja, kayak google tuh ga ngurusin. Tapi pas tadi siang buka lagi, hmmm…ada perubahan yang cukup berarti.

Tampilannya lebih sederhana, fitur-fitur lama masih ada seperti template yang itu-itu aja tapi bisa edit html+css. Tapi bukan itu yang bikin aku seneng, opsi-opsi di menu setting yang bikin senyum.

Pertama, ada opsi bisa pasang google adsense (asli baru tahu kalo blog gratisan bisa pasang adsense sendiri), trus ada settingan yang sekarang bisa kupahami karena udah belajar digital marketing seperti opsi crawl, robot yang berpengaruh ke SEO.

Kemudian blognya bisa disambungin ke google analytics. Ini nih yang bikin lega, akhirnya bisa belajar baca web analytics dan performa web.

So, i am tempted to make a new blog on blogspot. I will. Tapi ga akan buru-buru. Besok setelah 3 modul terakhir google garage beres, mulailah fase prakteknya, mulai dari planning, setting goals, maunya bikin blog apa? target marketnya siapa? konten-kontennya kayak gimana? Itulah dasar-dasar yang kerap kali bikin aku bingung.

Hehehe.

Udah ah, itu aja dulu laporan hari ini. i am sure no one will read this blog wholefully karena memang tidak semenarik itu. But if you are the one, aku salut dan ucapkan banyak-banyak terima kasih buat atensinya. Asli!

Good night! sehat selalu ya…

Belajar Digital Marketing

Di masa-masa kirim-kirim-lamaran-lalu-tunggu-jawab-panggilan, di kekosongan waktu sebagai pengangguran karena ga mau terlihat dan terasa seperti benar-benar ga berguna dan buang waktu, akupun memilih untuk menggunakan waktu yang luang ini untuk belajar dua hal. how to make a good content dan apa itu digital marketing.

Untuk hal pertama, jujur saja aku lagi stuck entah kenapa. Semenjak istri ke rumah sakit dan dirawat, ‘irama’ aktifitas keseharianku jadi berubah sampai akhirnya lupa lagi udah sampe mana. Sekarang malah jadi malas memulainya kembali.

Setelah istri pulang dari RS dan waktu luang jadi benar-benar luang lagi, akupun tergerak untuk mengikuti course gratis dari google garage tentang menjadi seorang digital marketer karena aku lagi penasaran bagaimana caranya memasarkan suatu brand atau usaha di era digital internet ini, dan pastinya jawabannya ada di ilmu digital marketing ini.

Ada 26 modul yang disediakan google garage tentang dasar-dasar digital marketing ini, so far so good. i can keep up tanpa kehilangan interest sedikitpun.

Aku baru modul 10, sejauh ini udah mulai paham tentang pentingnya memiliki sebuah website dan cara memasarkan website tersebut di search engine. Ada cara organik dengan SEO (search engine optimation), ada ads bernama SEM (search engine marketing), email marketing, dan tentu saja sosial media.

Setelah mulai memahami, akupun jadi sadar “iya juga ya… kalo orang nyari sesuatu di search engine, itu udah jadi satu jaminan bahwa orang tersebut memiliki kebutuhan akan sesuatu yang dicarinya itu, dan orang itu sudah pasti adalah calon customer banget”

Nah, sekarang masalahnya adalah gimana caranya kita menyediakan konten-konten yang bisa jadi jawaban untuk apapun yang target audiens kita cari di search engine. Dan cara menjodohkan si pencari jawaban dengan konten-konten kita adalah keyword yang tepat yang semuanya dibahas di SEO juga SEM.

Apapun itu, kalo menyoal dagang atau marketing, intinya sama. Kita harus tahu siapa target market kita, apa masalah yang mereka hadapi dan solusi apa yang bisa kita tawarkan kepada mereka.

Masih banyak yang perlu aku pelajari, semoga interest dan moodku belajar Digital Marketing ini ga pudar selama proses, hehe.

Jadi kepikiran banget pengin punya hosting dan domain sendiri, buat langsung praktek juga, tapi mahal, belum kebeli sekarang mah.
Hmmm…

Oke deh, itu aja laporan untuk malam ini,

Best regards,
Adynura

Hai kamu

Apa kabarnya? semoga selalu baik ya. Maaf baru sempat nulis-nulis lagi disini soalnya beberapa minggu terakhir ini agak hectic.

Pertama, istri sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Karena pandemi, semuanya jadi lebih ketat, yang nunggu pasien cuma boleh satu orang yaitu penanggung jawabnya saja, itupun harus swab test dulu, dan itu pun bisa kutemui setelah 2 hari isolasi di rumah sakit. Alhamdulillah baik aku maupun istri ga ada yang positif covid, hanya saja istri tetap harus dirawat selama seminggu karena sakitnya.

Lalu aku pindahan lagi dan kontrakan karena yaa… mau gimana lagi, sampai bulan ke-3 ini, pekerjaan belum kudapat, penghasilan sampinganpun belum menghasilkan, so.. dengan sangat terpaksa, aku harus selangkah mundur ke belakang, balik lagi ke rumah mertua, Starting over again from there.

It sucks, really. Tapi apa mau dikata. Pilihannya cuma tiga, berfikiran negatif dan pesimistik, berfikiran positif dan optimis atau ga mikir apa-apa, ga berbuat apa-apa. Clearly, pilihan yang ketiga biasanya ga sengaja kepilih kalo kita bingung mau milih gimana. Tapi sungguh, jauh lebih baik untuk berfikiran positif dan optimis daripada yang satunya lagi.

Aku percaya bahwa ‘semesta’ akan menjawab dengan sama positifnya, soon or later (i hope it soon)

So, gitu aja dulu buat kali ini.

Best regards,
Adynura

Untitled

Meskipun Agustus adalah bulan dimana cuacanya selalu bagus dan cerah sepanjang hari, sunrise dan sunset selalu terlihat lebih cantik dengan warna-warnanya tapi dengan masalah yang sedang kualami ini, rasanya campur aduk.

Not in a good way.

Bagaimana cara membuat headline yang menarik

Seperti yang mungkin kalian ingat, sebelumnya aku pernah ‘curhat’ tentang ternyata ga gampang membuat konten, dari mencari ide, copywriting, dan desain. Termasuk didalamnya adalah membuat judul atau headline.

Judul atau headline disini punya peran sangat penting karena menjadi salah satu penentu apakah orang akan melihat lebih lanjut konten kita atau tidak.

Menurut Satori, desain yang baik layaknya perangkap visual. Cara kerja perangkap tersebut tersusun dari 3 elemen yang berurutan secara hirarki, yaitu:
1. Attract
2. Intrigue
3. The Message


1. Attract

Secara hirarki, ini adalah elemen terpenting dan memiliki porsi terbesar dalam satu desain, si focal point. Bisa berubah imagery atau Typography. Sesuai namanya, elemen ini harus bisa menarik perhatian, seperti misalnya foto produk atau gambar yang menarik. Bisa juga sebuah desain tipografi yang indah dilihat.

Setelah mata orang berhasil ‘ditarik’ oleh elemen attract ini, lanjut ke elemen kedua, yaitu elemen intrigue

2. Intrigue

Intrigue ini biasanya berupa kata-kata yang mengundang rasa penasaran atau membuat orang ingin tahu lebih lanjut. Secara hirarki penarik perhatian, ini adalah hal menarik kedua setelah elemen Attract. Biasanya ukuran elemennya tidak lebih besar dari si elemen Attract di atas.

Secara umum ada 6 prinsip yang sebaiknya salah satunya dipenuhi oleh headline agar menarik perhatian, yaitu:
1. Singkat, mudah dipahami, dan to the point.
2. Menjelaskan benefit konten untuk mereka.
3. Umumkan berita yang menarik (tentunya yang audiens kamu pedulikan).
4. Kalimat tanya yang ‘mengundang’.
5. Menggugah rasa lapar audiens kamu akan pengetahuan baru.
6. Beritahu apa yang harus dilakukan.


Nah, untuk contoh-contohnya, belum bisa aku berikan karena aku juga masih belajar, hehe… mungkin kita bisa diskusikan di kolom komen, hehehe… maaf aku pemalas yaa?

3. The Message

Secara hirarki, merupakan elemen dengan ukuran terkecil dan paling ujung tapi merupakan inti dari sebuah desain, yaitu pesan yang ingin disampaikan.


Secara singkat, ‘jebakan visual’ ini bekerja berurutan, dimulai dari attracting focal point yang bisa berupa gambar atau desain tipografi,. Setelah sukses menarik mata, maka orang akan melihat ‘what next’nya yang kita jawab dengan kata-kata yang intrigue (mengundang rasa penasaran), lalu ketika intriguing words-nya sukses menjaga rasa penasaran audiens, merekapun akan mencari hal selanjutnya yaitu si message itu sendiri.

And done, tujuan desain tercapai (yaitu menyampaikan pesan), selanjutnya terserah mereka akan apa setelah membaca konten kita (yang mana semuanya tergantung konten kita sendiri, apakah menolong mereka atau tidak, mengundang mereka untuk do the next thing yaitu call to action atau tidak)

Intinya, apapun feedback dari audiens harus align dengan tujuan kita membuat konten tersebut. Kalo konten menjual, harapannya mereka jadi beli atau setidaknya bertanya. Kalo tujuannya hanya memberi value, harapannya audiens jadi suka, engage, dan dengan suka hati mau mengikuti konten-konten kita yang lainnya.

Tentukan tujuan konten -> buat konten -> buat visual trap -> review feedback yang didapat.

Got it!

Gimana menurutmu, apakah ada sesuatu yang kulewatkan? please help me out if there’s any.

Idenya sih gitu

Jadi berkembang nih ide Dari yang tadinya cuma ingin mengisi instagram dengan hasil foto-foto sendiri, lalu sekarang-sekarang pengin lebih kayak berbagi ilmu sambil belajar lagi, dan hari ini kepikiran jadiin akun IGku jadi semacam media yang share semua hal tentang fotografi dan visual.

Jadi, hal ini mulai tercetus dari jadwal konten mingguan. Dalam seminggu, ada dua hari yang emang diplot untuk ngepost konten yang inspiratif. Nah, tadinya cuma kepikiran quotes dan share foto-foto pemenang award atau apapun yang bisa menginspirasi orang-orang yang baru mulai menekuni fotografi untuk terus semangat belajar dan berkarya.

Tapi dari konten tema inspiratif itu malah melebar jadi kayak mikirin “kenapa ga sekalian jadi semacam media sharing dunia fotografi aja ya? mulai dari update teknologi, foto, ilmu, tips and trick dan lain-lain.” Juga bisa sekalian praktekin ilmu desain dan digital marketing yang lagi kupelajari secara otodidak, hehe.

Idenya sih kebayangnya asik, tapi bikinnya ga tau deh bakal overwhelming atau engga, soalnya aku sendiri dan masih. butuh. kerja, fulltime juga buat kebutuhan sehari-hari. Projek-projek kayak gini buatku masih lebih cocok sebagai side-hustle.

I don’t know ah. Setiap kali mikirin kebutuhan bulanan, jadi beda lagi mikirnya 😦