Am i feeding my ego?

Hari ini aku dapet feedback yang tidak disengaja dari dua orang terkait aku sebagai fotografer. Keduanya seiya sekata kalo aku bukan fotografer yang biasa membuat foto produk berdasarkan feed Instagramku yang kebanyakan adalah foto momen, foto dokumentasi.

Aku seharusnya senang dan biasa aja karena itu artinya brandingku sudah sesuai tujuan, aku sebagai fotografer penangkap momen, foto dokumentasi. Tapi kok agak terasa ga enak ya? apa mungkin itu egoku aja ya karena dianggap ga bisa foto produk yang bagus.

Because somewhere inside, aku merasa kalo akupun bisa bikin foto produk yang menarik.

Well, at the end of the day, akupun menyadari dan mengamini feedback dari mereka karena memang seharusnya begitu, tapi di belakang layar, aku jadi ingin lebih mengasah skill foto produk yang bernuansa seperti dokumentasi, seperti foto lifestyle. you know… yang kayak foto produk tapi soft selling gitu. biar ga lari dari branding yang selama ini kubangun secara konsisten.

Lalu aku akan menyisipkan lebih banyak foto seperti itu di halaman Instagramku and let the feeds do the talk.

Wow ya, segitu besarnya pengaruh feed Instagram sebagai portfolio seorang fotografer di masa sekarang.

Btw, do i sounds greedy? or….. arrogant?
Am i feeding my ego?

Daya tarik

Hujan tak berhenti sejak siang berganti sore. Aku tertahan di kantor karena berkendara motor tergantung cuaca, apalagi jika tak memiliki jas hujan. Pekerjaan hari ini kusudahi sejak pukul 4. Jadi, daripada diam menunggu hujan, akupun menulis.

Hujan selalu membawa aura yang begitu syahdu untukku. Dingin yang kurasa, gelap yang kulihat. Lalu akupun mendengarkan podcast dari teman blogger bernama Awl. Salah. Mendengarkan Awl dan puisinya membuat suasana semakin syahdu.

Ternyata Awl begitu apik membuat podcast-nya, aku merasa sedang melihat satu adegan film, padahal aku hanya mendengarkan.

Pernah lihat adegan film AADC dimana Rangga yang merindukan Cinta di New York? dengan suara Rangga membacakan puisi lengkap dengan backsound musik? hal itu yang persis kurasakan ketika mendengarkan podcast Awl. Indah.

Sekarang soreku berkendara motor akan lebih menyenangkan karena bisa sambil mendengarkan puisi Awl. Lalu aku akan berpura-pura kalo aku adalah Rangga yang sedang merindukan Cinta di rumah, menungguku pulang kerja 😁

Thank you Awl for the podcast, i’m looking forward to listening your new one.

Dan terima kasih juga untuk kamu yang telah mau meluangkan waktu untuk menulis, merekam suara, menangkap momen, mengabadikan dan membagikan. Bagiku, kamu adalah orang baik yang mau berbagi kehidupan dari sudut pandangmu sendiri. Tetaplah menjadi diri sendiri, karena ternyata daya tarikmu adalah apa adanya kamu.

Terukur

Yaitu kependekan dari Key Performance Indicator.
KPI ini baru kutemukan dan kupahami setelah aku ‘dipaksa’ untuk memahami cara membuat business model dan rencana marketingnya secara digital atau online.

Intinya, KPI ini adalah salah satu tools yang bisa dipakai untuk mengukur performa atau keberhasilan dari sebuah perencanaan. syaratnya, target harus jelas dan terukur, ada angka yang jelas.

Misalnya, target sebulan harus dapet 1000 followers instagram. berarti sehari harus mendapatkan minimal 33 followers.
Nah, instagram yang akun bisnis kan suka ada insight atau metric terukur seperti dapet likesnya berapa, comment berapa, profile visit berapa, reach sama view-nya berapa, semua ada angkanya. nah semua angka-angka yang ada pada insight bisa dijadikan sebagai KPI kita.

So, setelah kita pahami maksud dari semua angka-angka di insight IG tersebut, misalnya kenapa postingan gambar ini dapet reachnya cuma 100 kalo yg meme lucu dapet reach 500, lambat laun kita jadi bisa memahami konten apa yang lebih disukai audiens kita sendiri, tapi ingat, muatan kontennya tetep sesuai brandingan si akun, hanya pengemasannya aja yang dimodifikasi.

Aku… baru memahami itu sebulan terakhir ini. Trus selama ini ngapain? Ya, selama ini karena ga dipaksa untuk belajar soal bikin business model, jadi ga tahu apa itu KPI. dan ternyata, metric terukur itu enak banget, aku jadi jauh lebih paham harus gimana untuk membuat konten yg bagus dan diinginkan audiens kita. dan lambat laun, target followers sehari 33 itu bisa dicapai, dan lama-lama 1k /month itu bisa terealisasi.

Btw, buatku pribadi yang penting itu bukan growth angka followers tapi persentase interaction dengan followers atau teman yang sudah kita punya, jadi kalo punya temen 100 orang, ya targetnya semuanya mau berinteraksi dengan apa yang kita bikin, ya minimal 85% lah ya, hehe..

Oia, KPI juga berfungsi untuk pelaporan kepada client tentang performa akun sosial medianya, karena kalo ada angka yang jelas, mereka yg ga begitu pahampun akan mengerti performanya seperti apa.


the takeaway

Dari KPI ini, aku jadi memahami pentingnya set of goal yang spesifik dan terukur. Misalnya 1000 blog post dalam setahun, sehingga bisa dihitung seminggunya harus minimal berapa kali posting, and you stick to that plan.
Dan memecah goal utama menjadi goal-goal kecil itu jauh lebih efektif, lebih bikin percaya diri bisa mencapainya, hehe..

Mengelilingi dunia dimulai dari satu langkah kecil, kan?

Jadi apa rencanamu dalam setahun ini? mungkin bisa dibuat dalam bentuk yang bisa diukur, jangan bilang kalo goalnya ingin menjadi lebih baik aja, karena menjadi lebih baik itu banyak caranya, tergantung jalannya mau kemana.
Setelah ada ukurannya, cobalah untuk memecahnya menjadi potongan-potongan kecil yang bisa diusahakan untuk dicapai setiap hari atau setiap minggunya.

And that’s my thought today, tell me yours..

Design

Stumble upon, lagi lihat-lihat stories Instagram, tiba-tiba ada satu iklan yg menampilkan sebuah akun brand bisnis creative agency. Akupun tertarik dan berhasil dibuat penasaran berkat desain tampilan iklannya yang simpel tapi menarik, juga karena kebetulan akupun ingin lebih tahu tentang industri creative agency, mau sekalian ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) hehe..

Kesan pertama, tampilan feed yang simpel dan clean, isinya penuh dengan portfolio hasil desain yang telah mereka dapatkan dengan client.

Pokoknya semua desainnya dibuat untuk meyakinkan kalo creative agency ini memang ahlinya dan sudah banyak pengalaman, akupun kalo punya usaha, rasanya ingin menggunakan jasa mereka.

Gila ya, keinginan itu tiba-tiba muncul berkat desain feed yang tentu dibuat agar kita mau lanjut ke CTA (call to action)

Wow, that’s the power of good design, maksud dari desainnya benar-benar tepat sasaran”

Disitu aku jadi sedikit mengambil kesimpulan tentang apa itu desain.

Otakku yang ga sekolah tentang teori desain mulai beropini: Kayaknya desain itu bukan hanya menyoal bentuk, gambar, komposisi, atau warna saja deh, jauh lebih besar dari itu saja.

Mungkin desain itu adalah segala aktifitas membuat satu ide menjadi sesuatu yang bisa dilihat, diraba, diterawang.
Mungkin tujuan men-desain adalah membuat sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya, seperti tata jalan kota yg bisa bebas macet, seperti desain rumah yang cocok dengan daerah tropis, atau bisa jadi teknologi pun merupakan hasil desain, ya kan?

Bahkan tulisan di blog inipun sebetulnya dibuat berdasarkan desain tertentu. mendesain suara-suara dikepala yang riuh penuh ide agar bisa dituliskan sesederhana mungkin dan dipahami dengan baik oleh siapapun yg bisa membacanya.

Bisa jadi copywriting-pun merupakan hasil desain yang bertujuan membuat pembaca terdorong untuk melakukan sesuatu.

Tapi karena aku disini sebagai blogger, aku sangat tertarik untuk mampu mendesain ide jadi sebuah tulisan yang singkat dan sederhana agar lebih mudah dipahami oleh siapapun yg membacanya tanpa membuat mereka letih, tapi tetap mampu delivering inti idenya.

Aku melihat orang-orang di hari ini karena sudah terlalu banyak mendapatkan informasi dari sana sini dengan mudah dan sangat cepat sehingga yang menang dan mendapat perhatian adalah yg memiliki desain yg menarik, bikin penasaran untuk lanjut dan tidak melelahkan.

Menarik, singkat, jelas, padat.

Begitulah.

Proses

Makin lama, ternyata aku menemukan kenyamanan dari menulis disini. You know, sometimes working life is very exhausting.

Dan ketika pulang, udah bisa ga mikirin kerjaan dulu, disitu otakku malah secara otomatis switching mode ke mikirin mau nulis apa untuk blog hari ini, kadang bikin lieur kalo dbayangin aja, tapi ketika laptop udah nyala, siap ngetik, i just know what to write.

CURHAT AJA… curahkan semua yg tertahan di pikiran melalui tulisan. Somehow It feels right, i feel a bit better, entah kenapa?

Mungkin yang terpenting itu bukan ‘barang jadi’nya tapi proses membuatnya.

Thank you blog, thank you buat kamu yg sempet-sempetin baca.

Contemplation

Almost mid thirty.

For my parents, i always be their youngest child. no matter how old i am.
For my siblings, i always be their little brother. no matter how big and tall i am (in fact i am currently the tallest in the fam)
For panda, i’m still the same person like the first time she met me (well, a tiny bit wrinkles around my eyes while i’m smiling is normal)

The way they see me is still the same and it didn’t change.

It feels a bit weird considering of my beard and a few gray strands. But somehow my heart feels warm, knowing that for some, i still the same adynura.

And how i see myself? i don’t know how to describe it in words. But i wish i can do more, give more, and be the best version of myself every single day.

A year goes by, a year older. At the same time, lifespan reduced. Nothing to be celebrate, only reflecting on.

Visi Misi

Mulai deh, dari yang tadinya buat seneng-seneng, sekarang mulai mengerucut timbul keinginan-keinginan agar tulisan di blog ini tidak hanya nulis curhat aja tapi memang mau memberikan sesuatu yang berguna buat orang yang baca.

Karena kupikir, hari gini siapa yang mau baca curhatan orang asing ya?

Kayaknya biar ga lari-lari, aku harus bikin tulisan gede di kamar yang isinya adalah visi misi dari blog ini, karena seringkali pas jalan, yang tadinya buat seneng-seneng, karena penulis blog ini sering dihujani input dari apa yang dibaca atau tonton, mau ga mau terinfluence dan selalu ada pergeseran tujuan.

Kalo difikir-fikir, emang bener sih, hingga detik ini, aku belum tahu untuk siapa aku menulis disini. karena kalo buat diri sendiri, mending offline aja. kan?

Intinya sih aku pengen bikin tulisan pendek-pendek tentang pelajaran yang bisa kita petik dari keseharian. Memberi semangat dan optimisme dalam menjalani keseharian sebagai manusia abad 21.

Do you understand me?


A win win solution

Shipping the creative work.

Selama ini aku salah menangkap makna dari shipping the creative work. Tadinya yang kupahami tentang shipping the creative work itu adalah yang penting selalu hadir dan rutin membuat sesuatu (dalam hal ini adalah menulis) tentang apapun dan membaginya kepada khalayak maya tanpa kekuatiran untuk menulis jelek.

Tapi baru tadi sore kudengarkan lagi podcastnya, lebih fokus mendengarkan. Ternyata yang terlewat adalah makna kata creative dan work. Jadi creative disini adalah tentang membuat sesuatu yang jelas tujuannya untuk siapa dan perubahan apa yang diharapkan terjadi dari sesuatu yang kamu buat itu. Bukan berbagi hal random tanpa tujuan.

Dan kata work disini maknanya mirip seperti seorang profesional yang berkomitmen dan selalu berusaha membuat sesuatu yang lebih baik lagi dan mengabaikan perasaan malas, ga mood, lagi bete atau lagi ada masalah.

Yang terakhir adalah be generous. Katanya, dalam membuat sesuatu yang menurutmu bisa mengubah seseorang jadi lebih baik, jangan berharap apa-apa, just do the best creative work and shipping it. And let the universe answer your generosity.

Ternyata aku belum ngapa-ngapain ya. But that’s okay.
Dalam setahun kedepan, i just need one approval from one person that my existence in this blog is matter.
But if there’s no one, setidaknya aku tahu perkembanganku dari hari ke hari itu seperti apa 🙂

It’s still a win win solution for me.

Berbeda tapi satu jua

Kadang, kecocokan itu justru terjadi diantara dua yang benar-benar berbeda lho. Seperti aku dan Panda. Kita sepertinya punya banyak perbedaan dalam sifat dan pembawaan. hehe..

Pertama, Panda itu orangnya ceriwis, ngomongnya cepet, apapun bisa diobrolkan. Aku termasuk yang jarang update berita-berita terkini di jagad sosial media, tapi aku tetap tahu karena 99% kuketahui dari Panda.

Sedangkan aku, yaa.. aku lebih suka memposisikan diri sebagai pendengar daripada juru bicara.
Aku lebih ‘bawel’ ngetik daripada ngomong, dan jujur saja, aku mulai kuatir kalo soft skill-ku dalam berbicara lama-lama akan kaku karena jarang digunakan. Haha…. just kidding.

Panda, karena keceriwisannya, dia sangat mudah untuk akrab dengan orang yang baru dikenal, langsung cerita banyak. Kadang aku dibuat takjub karenanya.
Lalu aku? aku kebalikannya, aku bukan orang yang supel, aku orangnya kaku dalam bersosialisasi, bahkan temen kantor yang udah 6 bulan ini kerja satu ruangan, ngobrol ketika perlu aja. Duh… gitu banget ya gue? salah ga sih?

Dan justru karena perbedaan itulah yang membuatnya menarik dimataku. Bayangin aja, aku yang kaku tapi bisa jadi ga kaku pas pertama ketemuan sama Panda, dia langsung ngajak becanda tanpa terkesan SKSD. Aku kayak ngobrol sama temen lama, padahal itu kali pertama ketemu secara langsung atau kopdar.

Jadi, kalo aja panda ini sama pendiamnya sepertiku, sama kakunya sepertiku, mungkin kita ga bisa lanjut sampe sekarang, dan mungkin aku ga akan tertarik sama doi. Karena itu, aku percaya justru kita akan lebih cocok dengan orang yang sama sekali berbeda.

Oleh karena itu, jangan cari yang banyak kesamaannya ya, awalnya aja menyenangkan, tapi lama-lama akan membosankan, ya ga sih? hahaha… coba komen and prove me wrong di paragraf terakhir ini.

Until then, good night.

ps: satu setengah jam aku habiskan hanya untuk memikirkan apa yang mau kutulis disini.
Terkadang, nulis bebas pun tetap begitu sulit dilakukan ya.


About their opinion

It never ceased to amaze me, we all love ourselves more than other people, but care more about their opinion than our own

A quote by Marcus Aurelius

Bener juga ya, mungkin setiap dari kita secara manusiawi biasanya lebih mencintai diri kita sendiri, tapi untuk urusan penilaian terhadap diri, kebanyakan kita malah lebih mendengarkan apa kata orang lain.

Padahal yang tahu tentang kita hanya diri kita sendiri.

Misalnya mengenai penampilan fisik, kurus atau gemuk kah? soal baju, bagusan ini atau itu?

Mungkin saking sibuknya kita untuk memikirkan apa kata orang nantinya, sampai-sampai kita lupa untuk mendengarkan diri sendiri.